Mister Lawak Sewu

Posted: Juni 13, 2013 in Oktober

Slamet Widodo, guide Lawang Sewu Semarang menerima kami di malam itu (23/11). Jam tangan kami menunjukkan pukul 20.00 WIB persis saat  kami memasuki gerbang di sana.

     Baru masuk kami sudah dihadapkan pada papan bertuliskan “Dilarang Keras Melakukan Segala Kegiatan Mistis Di Gedung Lawang Sewu dan Lngkungannya, tertanda PT Kereta Api (persero)” Terus terang saja kami setuju dengan imbauan itu mengingat lokasi ini menjadi sumber klenik yang kadang-kadang tak mendidik. “Memang Bro, tapi ada aja yang terjadi di sini. Saya sendiri pernah melihat sosok orang tinggi besar seperti orang Belanda,” jelas Slamet. “Kalau saya lain mas, saya tertidur di dalam, tikar saya ditarik-tarik orang,” kata seorang pekerja perbaikan di sana. Ia ikut nimbrung saat kami  bicara topik itu.

     Sebelumnya kami pernah memasuki wilayah ini di siang hari. Saat malam menjelang, suasana memang agak lain. Kaca patri besar dan megah terbiaskan cahaya dari arah belakang dan sangat memesona. Paduan cahaya, relief dan ukurannya yang besar mau tak mau memancarkan aroma mistis tersendiri.

     Slamet mengajak berhenti sejenak untuk menikmati balkon dan pemandangan kota Semarang saat itu. Begitu berbeda…, suasana di luaran yang modern dan ramai dan disekitar balok yang hening dan kental nuansa masa lalu. Ia mengajak kami melihat  profil tembok yang terkelupas di sekitar balok itu,”Tak seperti tembok jaman sekarang ya, lihat, setiap batanya lebih besar dan keras.”  Keterangannya membuat kami kagum, betapa orang jaman dulu serius membuat bangunan untuk bisa bertahan ratusan tahun.

     Langkah kaki lantas menuju ruang khusus yang sepertinya istimewa. Rupanya itulah ruangan direktur   dari bangunan yang dulunya bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, kantor maskapai kereta api. Konon, ruangan inilah yang teristimewa karena sangat terlindung dan berlokasi sangat strategis di bagian atas.

     Oh ya di sini kami berdialog tentang awal pembangunan gedung megah ini. Tahun 1903 duet artsitek  Prof. Jacob K. Klinkhamer dan B.J. Oudang merancang bangunan bersayap dengan teknik artsitektur dan estetika yang dahyat. Mereka ditugasi pemerintah Belanda saat itu untuk menyelesaikan kantor yang dibuka pada 27 Agustus 1913.  Rancangan bangunan utama dan pendamping dengan perspektif yang sangat apik membuat.  Makin afdal, mereka menambahkan duo menara bergaya gothicnya, yang seakan angkuh  mengawasi kota semarang dari ketinggian.

     BIKERS tak melewatkan kesempatan memasuki bagian dalam dari salah satu menara ini.”Di atasnya dipasang torn dan pelat  baja untuk menampung air kebutuhan seluruh gedung,” jelas Slamet.

 

Saat pertama dibuka tahun 1907, suasana zona ini membang membangkitan rasa iri. Secara berkala, trem alias kereta api dalam kota setia melintas di jam yang disepakati. Sebuah mass tranportation yang tertata secara profesional. Itulah Semarang jaman kolonial, noni-noni Belanda datang dan pergi mengurusi sebuah keperluan. Ah, itu hanya satu sisi keindahan yang terjadi, dalam sisinya yang lain, nasib pribumi terjajah, menjadi kisah tragis tersendiri, disiksa dan diperas sampai mati.

Di Era Jepang kondisinya semakin ekstrem. Waktu kami diajak ke lantai 3 oleh guide Lawang Sewu, rasa agak tak nyaman dan sumpek terasa. Aneh, padahal ini aula yang luar dengan ventilasi baik. Ini bukan perasaan bernuansa mistik namun aura jelek yang berpendar sampai jaman ini. Kebetulan sang guide merasakan ‘ketidaknyamanan’ ini dan bercerita. Di jaman Jepang, disinilah tempat penyiksaaan kaum pribumi. Orang-orang digantung-siksa  sampai tewas.  Entahlah apakah ada benarnya, konon pula, mereka ditusuk sampai ususnya terburai. Di sudut aula ada  dua kamar durjana pemuas nafsu birahi bala tentara jepang terhadap wanita-wanita pribumi. Ia lantas menunjukkan tempat itu dan tentu saja tak hanya membangkitkan rasa ngeri tapi juga marah dan sedih bercampur baur. Bagaimana saat itu bangsa kita dihinakan begitu rupa!

Di era itulah, pertempuran Lima Hari yang fenomenal terjadi di Semarang yang merengut nyawa para bunga bangsa. Beberapa yang gugur dikuburkan di areal ini hingga tahun 70-an, jasad mulia inipun dipindahkan ke makam pahlawan.

 Memasuki bagian perbagian di Lawang Sewu mengundang banyak kesan. Ruang bawah tanahnya adalah konsep arsitektur yang tertata. Belanda memperuntukkan ruangan ini sebagai ventilasi udara sekaligus pendingin ruangan di atasnya. Mirip sistem air conditioning era sekarang. DI Jaman Jepang, ruangan ini menjadi penjara bawah tanah yang mengerikan. Ada satu ruang tempat pemenggalan kepala pesakitan. Guide pun tak lupa menjelaskan ikhwal penjara jongkok dan berdiri di ruangan ini. Desain mirip bak mandi diisi kira-kira 8 pesakitan berjongkok di bak dan diisi air sebatas leher. Mereka ditutup sampai waktu yang tak terhingga, kematian menjemput suatu waktu. Sama dengan penjara berdiri. Mereka  ditumpuk 8 orang di ruang sempit hingga tak mampu jongkok, sungguh siksaan yang membuat miris, betapa humanisme dipendam sampai dasar terdalam lubuk hati manusia. Jika ada yang masih ingatrealty show Dunia Lain  Trans TV soal penampakaan kuntilanak di Lawang Sewu, disitulah lokasi persisnya.

     Keluar dari ruang bawah tanah, kita seakan terselamatkan dari dunia bawah tanah yang suram. Lawang Sewu sedikit benderang. Apalagi PT Kereta Api Indonesia mulai  ‘memanjakannya’ dengan renovasi di sana-sini. Perlahan namun pasti, ia berseka dan menjadikan daerah ini sebagai daerah tujuan wisata primadona Semarang. Proteksi ditambah lagi dengan dinobatkannya Lawang Sewu sebagai  salah satu dari 120 bangunan  lama yang wajib dilestarikan.

Saat meninggalkan gedung ini, pedagang keliling dan peganan ala kadarnya mulai menjajikan dagangannya. Lwang Sewu menjadi bangunan yang punya nilai ekonomi dan edukasi. Moga kota-kota lainnyapun memperlakukan gedung tua mereka sepertihalnya Semarang. Mereka sadar bahwa sejarah adalah pelajaran berharga bagi kemajuan intelek muupun material bangsa ini.

Selamat tinggal Lawang Sewu, jika kami berkunjung padamu lagi, kamui yakin kamu akan lebih berseri. Amin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s