Arsip untuk Juni, 2013

Resensi Santri Kalong

Posted: Juni 15, 2013 in Oktober

NAMA : Rizky Aditya A

KELAS : 3KA07

NPM : 16110160

===========================================================================

Judul: Santri Kalong

Penulis: M Shoim Haris

Penerbit: Cupid, Yogyakarta

Tahun Terbit: 2012

Jumlah Halaman: 310 Halaman    

 

Buku-buku fiksi tentang alam pesantren selalu meluruk dunia santri yang tradisional namun penuh geliat pembaharuan. Penuh dengan kehangatan persahabatan di antara para penghuni dari berbagai pelosok Nusantara.   Kali ini, novelis sekaligus aktivis pergerakan pemuda Islam, M Shoim Haris menuangkan kisah Anto dalam novel keduanya, Santri Kalong. Meski tidak melulu mengambil suasana kesantrian, Shoim berusaha menarik peran santri dalam mendorong era Reformasi.   Novel Santri Kalong adalah novel kedua bagian dari serial Santri dan Perubahan, merekam kondisi sosial-politik, keagamaan di era pasca turunnya Presiden Soeharto dari kekuasaan selama 32 tahun.   Pasca Presiden Soeharto menyatakan ‘lengser keprabon mandeg pandhito’ (mundur dari kekuasaan dan menjadi begawan) lantas menyerahkan kekuasaan presiden kepada Wakil Presiden BJ Habibie.   Kekuatan reformasi terbelah menjadi dua; satu kelompok menerima Habibie sebagai presiden RI menghantarkan pemilu yang dipercepat, dan kelompok lain yang menolak legitimasi Habibie memimpin reformasi total.   Habibie seorang teknokrat (Ketum ICMI) dianggap anak didik Soeharto kesulitan menjalankan agenda reformasi –di dalamnya amanah Tap MPR untuk mengadili Soeharto dan kroni-kroninya. Sepanjang pemerintahannya, tak pernah sepi dari usaha kelompok reformis radikal guna mendongkel kedudukannya.   Meskipun sebagai anak didik Soeharto, Habibie diketahui seorang ilmuwan yang berpikir rasional, egaliter dan demokratis. Sosoknya yang jenius sebagai ilmuwan seringkali lugu dalam memandang politik. Keputusannya soal Timor-Timur telah mengecewakan kelompok ABRI – memicu ditolaknya pertanggungjawaban di SU MPR 1999.   Habibie juga melahirkan kebijakan mendorong keterbukaan bagi terwujudnya reformasi; melepaskan tahanan politik, me-recovery ekonomi, dan berusaha merespon tuntutan daerah-daerah konflik yang selama Orde Baru didekati dengan kekuatan militer.   Gambaran dinamika politik dan pemerintahan diwakili Anto, seorang anak blantik sapi. Seolah dia sejak lahir dikepung kemiskinan menjadi saksi – bersama jutaan anak-anak Indonesia lainnya – akan perjalanan sejarah bangsanya. Karena kemiskinan keluarganya, cita-cita menjadi santri tulen (bermukim di pesantren) adalah sebuah kemewahan.   Desakan kuat dalam dirinya menjadi santri tak mengendurkan niatnya belajar agama di pesantren. Jadilah ia seorang santri kalong, sebutan bagi santri yang belajar agama tanpa harus menginap di pesantren.   Pengalaman batin dan persahabatannya dengan Rohman (santri mukim) menghantarkan Anto mempunyai bongkahan cita-cita keluar dari kemiskinan yang menjerat keluarganya. Etos tinggi tanpa menyerah pada keadaan menuntunnya pada posisi tinggi di sebuah koran ternama di Surabaya.   Dalam kemapanan karir, justru Anto mendapatkan gugusan baru sebuah cita-cita seorang anak manusia, anak umat, dan anak sebuah bangsa. Di samping karena pergulatannya dengan dosen kritis, aktivis mahasiswa, lebih lagi karena sosok seorang gadis pesantren yang dicintainya (Gadis Penghafal Ayat), telah mengubah cara pandangnya terhadap sebuah cita-cita yang harus digenggam sebagai anak manusia, anak umat dan anak sebuah bangsa.   “Kehadiran Novel Santri Kalong ini, tidak saja mengajak pembacanya memahami dengan baik seluk-beluk ‘kejiwaan’ dunia santri, tapi juga dengan berhasil menggedor setiap insan pesantren untuk terus membuka mata tentang ‘dunia di seberang pesantren’ yang pantas mereka nikmati – dalam kata lain, menjadi santri progresif adalah misi dari novel ini. Selamat pada M Shoim Haris yang telah membuktikan diri sebagai penutur dunia santri yang hebat,” puji penulis dan pemerhati sastra pesantren Syahrul Effendi D. 

Iklan

About Ju’Jitsu

Posted: Juni 13, 2013 in Oktober

Jujutsu (bahasa Jepang: 柔術, jūjutsu; juga jujitsu, ju jutsu, ju jitsu, atau jiu jitsu) adalah nama dari beberapa macam aliran beladiri dari Jepang. Tidaklah betul jika dikatakan bahwa Ju-Jitsu mengacu pada satu macam beladiri saja.

Jujutsu pada dasarnya adalah bentuk-bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan memanfaatkan “Yawara-gi” atau teknik-teknik yang bersifat fleksibel, dimana serangan dari lawan tidak dihadapi dengan kekuatan, melainkan dengan cara “menipu” lawan agar daya serangan tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dari seni beladiri Jujutsu ini, lahirlah beberapa seni beladiri lainnya yang mempunyai konsep defensif serupa, yaitu Aikido dan Judo, keduanya juga berasal dari Jepang.
Jujutsu terdiri atas bermacam-macam aliran (Ryuha), namun pada garis besarnya terbagi atas dua “gaya”, yaitu tradisional dan modern. Gerakan dari kedua macam “gaya” Jujutsu ini adalah hampir sama, namun jurus-jurus Jujutsu modern sudah disesuaikan dengan situasi pembelaan diri di zaman modern, sedangkan jurus-jurus Jujutsu tradisional biasanya mencerminkan situasi pembelaan diri di saat aliran Jujutsu yang bersangkutan diciptakan. Sebagai contoh, Jujutsu yang diciptakan di zaman Sengoku Jidai (sebelum Shogun Tokugawa berkuasa) menekankan pada pertarungan di medan perang dengan memakai baju besi (disebut Yoroi Kumi Uchi), sedangkan yang diciptakan di zaman Edo (sesudah Shogun Tokugawa berkuasa) menekankan pada beladiri dengan memakai pakaian sehari-hari (Suhada Jujutsu).

Teknik-teknik Jujutsu pada garis besarnya terdiri atas atemi waza (menyerang bagian yang lemah dari tubuh lawan), kansetsu waza/gyakudori (mengunci persendian lawan) dan nage waza (menjatuhkan lawan). Setiap aliran Jujutsu memiliki caranya sendiri untuk melakukan teknik-teknik tersebut diatas. Teknik-teknik tersebut lahir dari metode pembelaan diri kaum Samurai (prajurit perang zaman dahulu) di saat mereka kehilangan pedangnya, atau tidak ingin menggunakan pedangnya (misalnya karena tidak ingin melukai atau membunuh lawan).

Aliran Jujutsu yang tertua di Jepang adalah Takenouchi-ryu yang didirikan tahun 1532 oleh Pangeran Takenouchi Hisamori. Aliran-aliran lain yang terkenal antara lain adalah Shindo Yoshin-ryu yang didirikan oleh Matsuoka Katsunosuke pada tahun 1864, Daito-ryu yang didirikan oleh Takeda Sokaku pada tahun 1892, Hakko-ryu yang didirikan Okuyama Ryuho pada tahun 1942, dan banyak aliran lainnya. 

About Capoeira

Posted: Juni 13, 2013 in Oktober

Alkisah, pada abad ke-16, di sebuah kawasan bernama Angola, Afrika, hidup sekumpulan budak yang dijajah orang Portugis. Mereka hidup menderita di bawah tekanan majikan. Ancaman hukuman gantung dan cambuk membayangi nasib mereka. Akan tetapi, semangat perjuangan mereka tetap menyala. Diam-diam mereka melawan. Mereka berhasil menciptakan jurus bela diri baru: capoeira.


Capoeira diciptakan berkat kecerdikan budak Angola mengecoh majikan mereka. Keganasan capoeira ditutupi dengan gaya bela diri yang seindah tarian dan disertai nyanyian khas. Tendangan memutar dan melompat yang dilakukan mampu memesona orang-orang yang menyaksikan. Bahkan, dua orang yang sedang latihan bertarung justru terlihat seperti pasangan yang sedang menari. Capoeira semakin berkembang ketika budak-budak Angola tersebar hingga ke Brasil.
Itu adalah satu teori mengenai lahirnya capoeira. Teori lain yang lebih mendapat dukungan adalah bahwa capoeira lahir di Brasil, diciptakan oleh budak-budak yang berasal dari berbagai kawasan di Afrika, antara lain orang Yoruba, Bantu, Angola, Kongo, dan Mozambik. Ahli-ahli sejarah capoeira lebih mendukung teori ini karena yang ada di Afrika hanyalah sebagian unsur yang terpisah-pisah dari seni itu, bukan bentuknya secara keseluruhan. Dari sintesis tarian, pertarungan dan alat musik dari berbagai kebudayaan Afrika yang berbeda oleh para budak itu terciptalah capoeira.
Seiring perkembangan waktu, Capoeira mulai dikenal sebagai bela diri yang agresif. Kebrutalan capoeira makin parah sejak terjadi pembebasan budak pada tahun 1888. Banyak bekas budak miskin yang menganggur kemudian membentuk geng capoeira untuk berbuat kejahatan. Ini membuat Pemerintah Brasil berang dan melarang olahraga ini pada tahun 1892. Mereka yang ketahuan berlatih atau mengajarkan bela diri tersebut akan dihukum berat. Hukumannya berupa pemotongan otot, lutut, bahkan tenggorokan.
Akan tetapi, riwayat capoeira belum berakhir. Banyak pejuang capoeira yang tetap setia dan berlatih secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya, pada tahun 1937, Getulio Vargas, Presiden Brasil pada masa itu, setuju mencabut larangan capoeira. Beliau malah ingin mempromosikan capoeira sebagai olahraga khas Brasil.
Capoeira makin menyebar di seluruh dunia berkat jasa Mestre (sebutan untuk master dalam capoeira) Bimba (1899-1974). Ia berhasil mengembangkan gaya capoeira baru yang lebih cepat dibandingkan dengan capoeira Angola, yaitu capoeira regional. Gaya tradisional yang disebut Capoeira Angola dipertahankan dan dikembangkan oleh Mestre Pastinha (1889-1982). Di Brasil dan berbagai negara seluruh dunia, umumnya diajarkan kedua gaya itu walaupun ada kelompok yang hanya mengajarkan Capoeira Regional atau Capoeira Angola saja.

About WingChun

Posted: Juni 13, 2013 in Oktober

Pada masa Cina dijajah oleh bangsa Manchuria (Dinasti Ching), saat Kaisar Yung Cheng1 berkuasa (1723-1736), terjadi peristiwa dibakarnya Kuil Shao Lin, yang berada di Gunung Sung, Propinsi Honan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 300 tahun yang lalu, saat kuil ini sedang dikepung oleh tentara pemerintah Manchuria.

Saat itu pemerintahan Manchuria takut akan perkembangan kung fu di Kuil Shao Lin yang semakin lama semakin kuat dan juga karena kuil ini dianggap sebagai pusat gerakan pemberontakan2 melawan penjajah Manchuria. Pemerintah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Chan Man Yiu, Wong Chun May, dan Cheung King Chow untuk menyerang kuil ini. Serangan demi serangan selalu mengalami kegagalan. Chan Man Yiu kemudian bekerja sama dengan para pengkhianat dari Kuil Shao Lin, salah satunya adalah Pendeta Ma Ning Yee, dan membakar Kuil Shao Lin secara diam-diam. Banyak penghuni Shao Lin, pendeta, murid calon pendeta, maupun murid-murid yang bukan calon pendeta mati terbakar. Walaupun demikian tidak semuanya mati, beberapa berhasil lolos dari peristiwa ini. Mereka yang berhasil lolos di antaranya adalah Pendeta Wanita Ng Mui, Pendeta Chi Sin, Pendeta Pak Mei, Master Fung To Tak, dan Master Miu Hin3, dan juga beberapa orang murid, yang paling terkenal di antaranya adalah Hung Hay Kwun (Hung Si Kuan), Fong Sai Yuk (Fang Se Yu)4, Luk Ah Choy, dan lain-lainnya. Kelima pendeta/master ini adalah lima guru yang mewakili lima gaya kung fu Shao Lin.

Pendeta Chi Sin yang mempunyai murid paling banyak memimpin pelawanan terhadap pemerintahan Manchuria. Pendeta ini bersama dengan beberapa orang murid kesayangannya, yaitu Hung Hay Kwun, Tung Chin Kun, dan Tse Ah Fook, menjadi buronan pemerintah. Agar tidak tertangkap, Pendeta Chi Sin memerintahkan murid-muridnya untuk menyamar, lalu ia sendiri menyamar menjadi juru masak di Perahu Merah/The Red Junk5. Sementara itu Master Miu Hin, anaknya perempuannya, Miu Tsui Fa, dan cucunya, Fong Sai Yuk, bersembunyi untuk sementara waktu di kalangan suku minoritas Miao dan Yao, yang berlokasi di antara propinsi Sze Chuan dan Yunnan. Mereka kemudian berkeliling dan melakukan banyak hal sehingga melahirkan legenda-legenda fantastis, di antaranya adalah “Fong Sai Yuk menantang sang juara bertahan turnamen kung fu”.

Pendeta Wanita Ng Mui adalah satu-satunya master wanita dari Shao Lin dan yang tertua dari kelima master tersebut. Ia lebih toleran terhadap pemerintah Manchuria daripada keempat saudara seperguruannya ini. Walaupun demikian kadang-kadang ia juga menggunakan kung fu-nya untuk menegakkan keadilan. Ng Mui pergi berkeliling Cina, perjalanannya ini melahirkan legenda “Ng Mui membunuh Lee Pa Shan di hamparan bunga plum6”. Ia lalu mengundurkan diri dan bersumpah untuk tidak terlibat lagi dalam peristiwa-peristiwa kekerasan. Ia kemudian menetap di Kuil Bangau Putih yang terletak di gunung Tai Leung (juga disebut gunung Chai Ha), di antara propinsi Yunnan dan Sze Chuan. Ia berkonsentrasi mendalami Zen Buddhisme, sebuah sekte Buddha yang dikembangkan oleh Bodhidharma7, dan juga ilmu kung fu sebagai hobby yang amat disukainya. Ng Mui, seperti juga yang lainnya, tidak pernah melupakan pengalaman pahit peristiwa kebakaran dan pengkhianatan di Kuil Shao Lin. Ia juga khawatir akan pengejaran yang dilakukan oleh para pengkhianat dan pasukan pemerintah Manchuria. Ia sadar akan kesulitan yang akan dialaminya jika suatu saat bertemu dengan para pengkhianat yang juga telah menguasai ilmu bela diri Shao Lin tersebut. Ia sadar bahwa pengetahuan teoritis bela dirinya sejajar dengan mereka, dan suatu saat kemampuan fisiknya akan kalah dengan para pengkhianat yang jauh lebih muda darinya. Untuk mengatasi hal ini, cara satu-satunya adalah dengan menciptakan sebuah teknik bertarung baru yang mampu mengatasi teknik-teknik bertarung Shao Lin. Pertanyaannya adalah apa teknik baru itu dan bagaimana menciptakannya?

Lahirnya Teknik Bertarung Baru

Suatu saat Ng Mui menyaksikan pertarungan antara seekor rubah dan seekor bangau liar besar. Rubah itu berjalan mengitari bangau mencari kesempatan untuk menyerang, sementara bangau diam di tengah dan berputar-putar untuk menghadapi rubah. Setiap kali rubah menyerang dengan cakarnya, bangau menghalau dengan sayapnya dan pada saat yang sama balik menyerang dengan paruhnya. Rubah tersebut memanfaatkan kelincahannya untuk menghindar dan menyerang tiba-tiba dengan cakarnya. Demikian perkelahian ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama hingga Ng Mui mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan teknik pertarungan baru. Siapa di antara bangau dan rubah yang menjadi pemenang tidaklah penting. Ng Mui berkonsentrasi untuk menyesuaikan gerakan cakar rubah dan sayap bangau menjadi gerakan manusia. Ia berhasil menciptakan satu set gerakan tempur yang tetap mempertahankan gerakan rubah dan bangau tetapi sesuai dengan gerakan manusia.

Gerakan kung fu Shao Lin yang menitik beratkan pada suatu pola tetap, terlalu rumit untuk Ng Mui. Dalam teknik barunya ini ia menitikberatkan pada kesederhanaan gerak dan keanekaragaman kegunaan. Hal ini cukup menyimpang dari teknik-teknik Shao Lin. Dengan kata lain, dari sepuluh set atau lebih gerakan Shao Lin, satu dan lainnya hanya berbeda sedikit, hanya akan memberikan latihan stereotip bagi para anak didik. Sistem baru ciptan Ng Mui ini terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang digabungkan, dan setelah mengalami beberapa perbaikan dan penyempurnaan, dibagi menjadi tiga jurus dan satu set gerakan berlatih menggunakan “orang-orangan kayu”. Terlebih lagi dalam gaya Shao Lin, banyak gerakan yang memiliki pose menarik dan nama yang indah, seperti “Tarian Naga dan Pheonix”, “Tongkat Master Tao”, dan “Singa Keluar Dari Gua”, tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya tidak dapat diprektekkan. Kebalikannya, dalam teknik baru ini, setiap gerakan adalah gerakan tempur yang sesungguhnya dan sangat praktis. Sudah tidak ada lagi gerakan-gerakan dan pose-pose indah yang hanya berguna untuk menarik perhatian. Gerakan-gerakan ini memiliki nama-nama yang sesuai dengan kegunaan dan bentuk gerakannya, seperti “Telapak Tangan Menghadap Ke Atas”, sebuah nama yang sangat jelas menunjukkan gerak tangan yang diwakilinya.

Perbedaan lainnya adalah dalam teknik Shao Lin terlalu banyak menekankan latihan fisik. Seorang murid harus berlatih kuda-kuda yang kuat selama dua atau tiga tahun sebelum ia dapat melanjutkan pelajaran. Dalam teknik barunya, Ng Mui lebih menekankan penggunaan metode dalam mengalahkan musuh daripada dengan menggunakan kekuatan. Memang dalam metode ini perlu juga melatih kekuatan, tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya, yang terpenting adalah menerapkan metode yang tepat untuk masing-masing keadaan, dan juga untuk masing-masing lawan. Untuk keperluan ini, para pengikut akan dibekali dengan beragam teknik gerakan tangan, kuda-kuda, dan gerak langkah yang fleksibel. Dengan kata lain, dalam pertempuran yang sesungguhnya, gaya Shao Lin akan menggunakan gerakan tangan dan kuda-kuda lebar, sementara teknik baru ini akan menggunakan langkah kaki yang mengejar dan teknik bertempur jarak dekat. Dalam gaya Shaolin, kuda-kuda yang paling sering digunakan adalah “kaki depan sebagai busur dan kaki belakang sebagai anak panah” atau disebut juga kuda-kuda depan, sementara dalam teknik baru ini menggunakan kuda-kuda “kaki depan sebagai anak panah dan kaki belakang sebagai busur” atau disebut juga kuda-kuda belakang. Kuda-kuda belakang ini memungkinkan diterapkannya teknik “tendangan menghujam ke depan” yang cepat untuk menyerang tempurung lutut orang-orang yang menggunakan kuda-kuda depan, dan dapat mundur dengan cepat, jika kaki depannya sendiri diserang.Teknik baru ini akhirnya membuktikan ketidakefektifan gaya-gaya lebar Shao Lin.

Yim Wing Chun Yang Jelita

Nona Yim Wing Chun adalah penduduk asli propinsi Kwang Tung. Setelah ibunya meninggal, ia tinggal berdua dengan ayahnya, Yim Yee. Sejak kecil ia telah dijodohkan dengan Leung Bok Chao, seorang pedagang garam dari propinsi Fu Kien (Hok Kian). Sebagai murid Shao Lin, Yim Yee berusaha menggunakan kung fu-nya untuk menegakkan keadilan. Dengan demikian ia sering terlibat dalam urusan pengadilan. Agar tak ditangkap, ia mengajak anak perempuannya melarikan diri ke perbatasan antara propinsi Yunnan dan Sze Chuan dan menetap di kaki gunung Tai Leung. Mereka hidup dari hasil penjualan tahu di pasar. Yim Wing Chun tumbuh menjadi seorang gadis lincah, dan cantik. Keatraktifannya ini akan mengakibatkan masalah di kemudian hari.

Ada seorang preman lokal bermarga Wong yang terkenal bertabiat buruk. Karena kemampuan kung fu-nya dan juga karena tangan hukum begitu lemahnya di daerah terpencil ini, ia ditakuti oleh penduduk setempat. Karena tertarik dengan kecantikan Yim Wing Chun, ia mengirimkan perantara untuk melamar gadis ini, dengan ancaman jika ditolak, ia akan memaksa Wing Chun menikahinya. Ayah Wing Chun sudah tua dan Wing Chun sendiri adalah gadis yang lemah. Oleh karena itu mereka sangat khawatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara itu, Pendeta Wanita Ng Mui, yang tinggal dekat desa ini, sering mengunjungi pasar desa. Setiap kali ia lewat di kios tahu Yim Yee, ia selalu mampir dan berbelanja. Dengan demikian, mereka menjadi saling mengenal. Suatu hari, saat ia berbelanja, ia memperhatikan ada sesuatu yang tidak biasa pada ekspresi ayah dan anak ini. Ketika ditanyakan, mereka menceritakan masalah tersebut kepada Ng Mui. Pengakuan ini membangkitkan kembali rasa keadilan dalam diri Ng Mui yang sudah lama dipendam. Ia memutuskan untuk membantu Yim Wing Chun, tetapi tidak dengan melawan Wong, suatu hal yang pasti dilakukannya sebelum mengundurkan diri. Alasannya adalah bahwa ia tidak ingin menunjukkan identitas aslinya sebagai pendekar Shao Lin, dan juga karena tidak layak baginya, sebagai seorang ahli bela diri terkenal dari Shao Lin, bertarung melawan preman tak ternama dari sebuah desa terpencil. Ia memutuskan untuk mengajari teknik bela diri ciptaannya kepada Yim Wing Chun. Bagi Wing Chun sendiri, ilmu bela diri bukan sesuatu yang aneh, karena ayahnya adalah murid Shao Lin. Selama ini Wing Chun merasa belum perlu mempelajari ilmu ayahnya. Kini dengan panduan Ng Mui, sang master wanita dari Shao Lin, dan juga karena kepandaian dan kerja kerasnya, ia berhasil menguasai teknik ini dalam waktu tiga tahun.

Pada suatu hari Ng Mui memberitahu bahwa Wing Chun sudah menguasai semua teknik-teknik ciptaannya dan diperbolehkan kembali ke rumah ayahnya dan menyelesaikan masalah dengan Wong. Sekembalinya ia ke rumah ayahnya, preman tersebut mulai menggodanya lagi. Kali ini Wing Chun menantangnya berkelahi. Wong terkejut, tetapi menerima tantangan ini. Ia sangat yakin dapat mengalahkan Wing Chun dan menikahinya, tetapi dalam pertarungan tersebut ia dikalahkan oleh Wing Chun. Sejak saat itu, Wong tak berani lagi mengganggu Wing Chun. Setelah peristiwa ini, Wing Chun terus berlatih teknik ini, tetapi Ng Mui merasa kehidupan di kaki gunung Tai Leung terlalu monoton dan pergi berkelana. Ia berpesan pada Wing Chun untuk menjaga peraturan Shao Lin dan berhati-hati dalam meneruskan teknik ini agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tak pantas.

Sejarah Wing Chun Kuen

Halaman 2

Leung Bok Chao Dan Leung Lan Kwai

Yim Wing Chun akhirnya menikah dengan tunangannya Leung Bok Chau. Ia berhasil menurunkan teknik yang dipelajarinya dari Ng Mui ini kepada suaminya. Leung Bok Chao sendiri pernah mempelajari bela diri, dan rajin berlatih di waktu senggangnya. Setelah pernikahan mereka, Wing Chun sering berdiskusi dengannya tentang teknik-teknik pertarungan. Awalnya ia meremehkan Wing Chun, karena menganggap Wing Chun adalah wanita yang lemah. tetapi Wing Chun berhasil memperoleh kesempatan untuk berlatih dengan suaminya dan berhasil mengalahkannya setiap kali mereka berlatih. Leung Bok Chao pun akhirnya sadar bahwa Wing Chun bukanlah seorang wanita lemah, tetapi seorang ahli seni bela diri. Sejak saat itu ia mengagumi teknik istrinya dan sering berlatih berdua. Ia menyebut teknik ini “Wing Chun Kuen” untuk menghormati istrinya.

Leung Bok Chao kemudian meneruskan teknik Wing Chun Kuen ini kepada Leung Lan Kwai, seorang tabib ahli tulang yang tidak pernah menonjolkan kemampuannya dalam bela diri. Bahkan keluarga dan sahabat-sahabatnya tidak mengetahui akan keahliannya dalam Wing Chun Kuen ini. Rahasia ini hanya sekali ditunjukkan, ketika ia membantu seorang pesilat yang sedang dikeroyok oleh sekelompok pesilat lain. Bagaimanapun juga, ia selalu berusaha untuk tidak menyombongkan diri dan menerapkan pesan pendahulunya, yaitu “tidak mengungkapkan keahlian Wing Chun Kuen kepada orang lain”.

Wong Wah Bo Dan Leung Yee Tei

Walaupun ia menutup mulut tentang Wing Chun Kuen, Leung Lan Kwai meneruskan teknik ini kepada Wong Wah Bo, walaupun secara kebetulan. Wong Wah Bo adalah seorang aktor dari perkumpulan opera Cina. Pada jaman ini, aktor opera Cina disebut “Pengikut Perahu Merah (The Red Junk)”. Leung Lan Kwai sebenarnya tidak ingin menerima murid, tetapi sifat-sifat Wong Wah Bo yang memiliki rasa keadilan yang tinggi membuat Leung Lan Kwai bersedia menerimanya sebagai murid.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak dari para pengikut perahu merah mengerti kung fu. Karena riasan yang mereka kenakan saat tampil di panggung, identitas mereka sulit diketahui. Itulah sebabnya banyak pengikut Shao Lin bergabung dengan perkumpulan opera ini untuk bersembunyi dari kejaran pemerintah Manchuria. Tetapi menyimpan rahasia tetap merupakan hal yang sulit. Banyak dari para pengikut Shao Lin yang membuka rahasianya kepada orang yang mereka percaya. Untungnya tidak ada di antara orang kepercayaan ini yang melaporkannya ke pemerintah Manchuria. Salah satu dari pengikut Shao Lin ini adalah Master Chi Sin, yang sudah diceritakan pada awal cerita ini. Ia menjadi pahlawan perkumpulan ini dan mengajarkan kepada mereka teknik-teknik bela diri Shao Lin dan mempersiapkan mereka untuk melawan pemerintah Manchuria jika saatnya tiba.

Salah satu murid Master Chi Sin adalah Leung Yee Tei. Ia bukan aktor tetapi salah satu petugas kapal yang bertugas mengemudikan perahu dengan menggunakan tongkat panjang. Di antara semua teknik yang diajarkan Master Chi Sin, yang sangat dikaguminya adalah teknik menggunakan tongkat panjang. Untung bagi Leung Yee Tei, Master Chi Sin adalah ahli menggunakan “tongkat panjang enam setengah point” dan menganggap Leung Yee Tei cukup pantas untuk menjadi penerus teknik ini.

Wong Wah Bo sang aktor adalah salah satu penghuni kapal yang dikemudikan Leung Yee Tei. Ia sangat mengagumi teknik tongkat Leung Yee Tei, sebaliknya Leung Yee Tei mangagumi teknik Wing Chun dari Wong Wah Bo. Mereka saling bertukar pengetahuan. Hasilnya Leung Yee Tei menjadi penerus teknik Wing Chun dan teknik Wing Chun sendiri bertambah dengan masuknya teknik tongkat panjang enam setengah point, di samping teknik golok Pa Chan Tao yang sudah ada dalam Wing Chun. Saat bertukar kepandaian, mereka menyadari bahwa mereka dapat meningkatkan kemampuan masing-masing dengan menambahkan hal-hal yang telah mereka pelajari satu sama lain. Contohnya, teknik tongkat panjang enam setengah point dapat diperbaiki dengan memasukkan teknik Wing Chun ke dalamnya. Mereka lalu menerapkan teknik Chi Sau (tangan menempel) dan berhasil menciptakan teknik yang diberi nama Chi Kwun (tongkat menempel). Lebih jauh lagi, mereka berhasil meningkatkan daya guna tongkat dengan mengurangi jarak antara kedua lengan yang memegang tongkat, dan mengubah gerak kakinya menjadi seperti gerak kaki gaya tangan kosong.

Leung Jan Dari Fat Shan

Di masa tuanya Leung Yee Tei meneruskan teknik-teknik Wing Chun dan tongkat panjang enam setengah point ke Leung Jan, seorang tabib terkenal dari Fat Shan, satu dari empat kota terkenal di propinsi Kwang Tung, Cina selatan. Fat Shan yang merupakan persilangan dari beberapa jalur transportasi ramai dekat Sungai Mutiara, adalah sebuah kota perdagangan yang terkenal dan berpenduduk padat. Banyak pejabat pemerintah, pedagang-pedagang besar, buruh, dan orang-orang biasa tinggal di sini. Leung Jan, pemilik sebuah toko obat ramuan tradisional, dibesarkan dalam keluarga yang baik, berpendidikan, dan sopan. Selain mengurus Toko Obat Jan Shan di Jalan Sumpit di Fat Shan, ia juga membuka praktek tabib. Ia cukup profesional dalam bidang ini, dan dipercaya oleh masyarakat sekitarnya. Bisnisnya maju. Di waktu senggang ia suka membaca buku, dan juga seni bela diri. Ia tak ingin sembarangan memilih guru untuk belajar bela diri. Ia tak menyukai jurus dan kuda-kuda lebar yang terlihat ganas. Sistem yang menitik beratkan kekuatan fisik dan kasar tidak disukainya, demikian juga dengan gaya-gaya indah tetapi tidak praktis untuk perkelahian. Yang ia inginkan adalah gaya yang praktis dan bermanfaat, walaupun sederhana. Bertahun-tahun ia mencari guru dan sistem bela diri yang ideal, hingga pada suatu saat ia bertemu dengan Leung Yee Tei dan belajar teknik Wing Chun darinya.

Dalam waktu yang tak terlalu lama, Leung Jan telah dijuluki “Raja Kung Fu Wing Chun”. Ketenarannya ini menarik perhatian para penantang. Orang-orang ambisius memaksa bertarung dengannya, tetapi semuanya dikalahkan dengan cepat. Jika orang-orang mendengar nama Leung Jan, mereka akan mengingat gelarnya “Raja Kung Fu Wing Chun” dan peristiwa ia mengalahkan lawan-lawannya. Sampai sekarangpun para generasi tua masih membicarakan tentangnya dengan penuh semangat.

Wah Si Manusia Kayu, Leung Tsun, Dan Wah Si Penukar Uang

Ketertarikan Leung Jan terhadap Wing Chun memaksanya untuk menerima beberapa orang murid, termasuk kedua anaknya, Leung Tsun dan Leung Bik. Walaupun demikian ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai pengajar profesional. Ia mengajari mereka Wing Chun setiap sore hari setelah selesai mengurus tokonya.

Di antara murid-muridnya ada seorang yang dijuluki Wah Si Manusia Kayu. Nama ini didapatnya karena sepasang tangannya yang kuat dan sekeras kayu. Ia sering mematahkan orang-orangan kayu pada saat latihan. Setiap sore, ia belajar Wing Chun bersama saudara-saudara seperguruannya dibawah bimbingan Leung Jan.

Di sebelah toko Leung Jan, ada kios penukaran uang milik Chan Wah Sun, yang dijuluki Wah The Money Changer (Wah Si Penukar Uang). Ia sangat ingin belajar kung fu dan ingin belajar dari guru kung fu terkenal. Karena kiosnya tepat di sebelah toko obat Leung Jan yang sangat dikaguminya, ia sangat ingin meminta Leung Jan untuk menerimannya menjadi murid. Tetapi karena Leung Jan adalah pria terhormat dari keluarga terkenal dan juga pemilik toko yang cukup berada, Wah Si Penukar Uang merasa malu untuk meminta Leung Jan mengajarinya. Lagi pula ia tidak tahu apakah Leung Jan bersedia menerimanya atau tidak. Tetapi keinginannya yang kuat dan rasa hormatnya terhadap Leung Jan memberikan harapan besar baginya. Setiap hari sesudah segala pekerjaan selesai dan jalan mulai sepi, ia mengendap-endap ke pintu Leung Jan dan mengintipnya mengajar kung fu dari celah pintu. Leung Jan menjadi idolanya. Setiap gerakan tangan dan kakinya ia pelajari baik-baik dan sangat membekas pada dirinya. Semakin hari keinginannya untuk belajar menjadi semakin tebal.

Suatu hari ia merasa sudah saatnya untuk datang pada Leung Jan dan memintanya mengajari kung fu. Tepat seperti dugaannya Leung Jan menolak dengan halus. Ia kecewa, tetapi tidak putus asa. Ia memikirkan cara untuk memenuhi keinginannya. Pada saat Leung Jan sedang tidak berada di tokonya dan Leung Tsun, anak tertua Leung Jan, sedang sendirian, Wah Si Manusia Kayu membawa seseorang datang ke toko obat Leung Jan. Orang ini sesungguhnya adalah Wah Si Penukar Uang. Leung Tsun, yang merasa lebih hebat, menerima tantangan ini, untuk menguji seberapa tinggi pengetahuan sang murid gelap ini. Leung Tsun sesungguhnya tidak segiat saudara seperguruannya, Wah Si Manusia Kayu, dalam mempelajari Wing Chun. Segera setelah kedua tangan mereka bersentuhan, Wah Si Penukar uang sadar bahwa lawannya tidak sehebat yang ia duga. Pada suatu ketika Wah Si Penukar Uang berhasil memasukkan sebuah pukulan lurus dan Leung Tsun pun terjatuh tepat menimpa kursi kesayangan ayahnya. Patahlah salah satu kaki kursi itu. Mereka takut dimarahi oleh Leung Jan oleh karena itu mereka lalu berusaha menyambung kembali kaki kursi itu.

About Taekwondo

Posted: Juni 13, 2013 in Oktober

Taekwondo merupakan seni bela diri Korea tertua yang berasal dari sebuah penggabungan dari gaya pertempuran bersenjata yang dikembangkan oleh tiga kerajaan Korea saingan dari Goguryeo, Silla dan Baekje, di mana pemuda dilatih dalam teknik tempur bersenjata untuk mengembangkan kekuatan, kecepatan, dan keterampilan bertahan hidup. Yang paling populer dari teknik ini adalah subak, dengan taekkyeon yang paling populer dari segmen subak. Mereka yang menunjukkan bakat sejak lahir yang kuat dipilih sebagai trainee dalam korps prajurit baru khusus, yang disebut Hwarang. Ia percaya bahwa pria muda dengan bakat untuk seni liberal mungkin memiliki bakat untuk menjadi prajurit yang kompeten. Prajurit ini diperintahkan dalam akademisi serta seni bela diri, belajar filsafat, sejarah, kode etik, dan olahraga berkuda. Pelatihan militer mereka termasuk program perang yang melibatkan pedang dan memanah, baik di atas kuda dan berjalan kaki, serta pelajaran di taktik militer dan menggunakan subak memerangi prajurit bersenjata. Meskipun subak adalah seni berorientasi dengan menggunakan kaki di Goguryeo, pengaruh Silla menambahkan teknik tangan untuk praktek subak.

Selama waktu ini beberapa yang dipilih Silla prajurit diberi pelatihan taekkyeon oleh master awal dari Koguryo. Prajurit ini kemudian menjadi dikenal sebagai Hwarang. Hwarang mendirikan akademi militer untuk anak-anak di Silla disebut Hwarang-do, yang berarti “jalan kedewasaan.” Hwarang mempelajari taekkyeon, sejarah, filsafat Konfusianisme, etika, moralitas Buddhis, keterampilan sosial dan taktik militer. Prinsip-prinsip dari prajurit Hwarang didasarkan pada lima Won Gwang yaitu kode perilaku manusia dan termasuk kesetiaan, tugas berbakti, kepercayaan, keberanian dan keadilan. Taekkyeon tersebar di seluruh Korea karena perjalanan Hwarang seluruh semenanjung untuk belajar tentang daerah lain dan orang-orang.

Terlepas dari sejarah Korea yang kaya seni bela diri kuno dan tradisional, seni bela diri Korea memudar ke dalam ketidakjelasan selama Dinasti Joseon. Masyarakat Korea menjadi sangat terpusat di bawah Konfusianisme Korea dan seni bela diri yang buruk dianggap dalam masyarakat yang dicita-citakan dan itu dicontohkan oleh sarjana-raja nya. praktek formal seni bela diri tradisional seperti subak dan taekkyeon yang disediakan untuk sanksi militer. Pelatihan rakyat sipil taekkyeon bertahan sampai abad ke-19. 

Selama pendudukan Jepang Korea (1910-1945), semua aspek identitas etnis Korea dilarang atau ditekan. Tradisional seni bela diri Korea seperti subak taekkyeon atau dilarang selama waktu ini. Selama pendudukan , Korea yang mampu belajar dan menerima peringkat di Jepang terkena seni bela diri Jepang. Yang lainnya terkena seni bela diri di Cina dan Manchuria.

Ketika pendudukan berakhir pada 1945, Korea seni bela diri sekolah (kwans) mulai terbuka di Korea di bawah berbagai pengaruh. Ada pandangan yang berbeda mengenai asal usul seni diajarkan di sekolah-sekolah. Beberapa percaya bahwa mereka mengajarkan seni bela diri yang didasarkan terutama pada seni tradisional Korea Taekkyon bela diri dan subak, atau Taekwondo yang berasal dari Korea asli, seni bela diri dengan pengaruh dari negara-negara tetangga. Diyakini bahwa sekolah-sekolah mengajarkan seni yang hampir seluruhnya didasarkan pada karate.

Pada tahun 1952, pada puncak Perang Korea, ada sebuah pameran seni bela diri di mana kwans ditampilkan keterampilan mereka. Dalam satu demonstrasi, Tae Nam Hai menghancurkan 13 genteng dengan pukulan. Setelah demonstrasi ini, Presiden Korea Selatan Syngman Rhee menginstruksikan Choi Hong Hi untuk memperkenalkan seni bela diri kepada tentara Korea. Pada pertengahan 1950-an, sembilan kwans telah muncul. Syngman Rhee memerintahkan berbagai sekolah tunduk di bawah satu sistem. Nama “taekwondo” disampaikan dengan baik Choi Hong Hi (dari Oh Do Kwan) atau Song Duk Son (dari Chung Do Kwan), dan diterima pada tanggal 11 April 1955. Seperti berdiri hari ini, sembilan kwans adalah pendiri taekwondo, meskipun tidak semua kwans menggunakan nama. Asosiasi Taekwondo Korea (KTA) dibentuk pada 1959/1961 untuk memfasilitasi unifikasi.

Pada awal 1960-an, Taekwondo membuat debut di seluruh dunia dengan tugas dari master asli Taekwondo ke berbagai negara. Standardisasi usaha di Korea Selatan terhenti, sebagai kwans terus mengajar taekwondo dengan gaya yang berbeda. Permintaan lain dari pemerintah Korea untuk penyatuan menghasilkan pembentukan Korea Tae Soo Do Association, yang berubah nama kembali ke Korea Taekwondo Association pada tahun 1965 menyusul perubahan kepemimpinan. Internasional Taekwon-Do Federation didirikan pada tahun 1966, diikuti oleh Federasi Taekwondo Dunia pada tahun 1973.

Sejak tahun 2000, Taekwondo telah menjadi salah satu dari hanya dua seni bela diri Asia (yang lainnya adalah judo) yang disertakan dalam Olimpiade, dan menjadi event taeknowndo pada tahun 1988 dimulai dengan permainan di Seoul, dan menjadi acara resmi dimulai dengan medali tahun 2000 game di Sydney. Pada tahun 2010, Taekwondo diterima sebagai olahraga Commonwealth Games. 

Salah satu sumber memperkirakan bahwa pada 2009, Taekwondo dipraktekkan di 123 negara, dengan lebih dari 30 juta praktisi dan 3 juta orang dengan sabuk hitam di seluruh dunia. Pemerintah Korea Selatan pada tahun yang sama menerbitkan sebuah perkiraan 70 juta praktisi taekwondi di 190 negara.

Mister Lawak Sewu

Posted: Juni 13, 2013 in Oktober

Slamet Widodo, guide Lawang Sewu Semarang menerima kami di malam itu (23/11). Jam tangan kami menunjukkan pukul 20.00 WIB persis saat  kami memasuki gerbang di sana.

     Baru masuk kami sudah dihadapkan pada papan bertuliskan “Dilarang Keras Melakukan Segala Kegiatan Mistis Di Gedung Lawang Sewu dan Lngkungannya, tertanda PT Kereta Api (persero)” Terus terang saja kami setuju dengan imbauan itu mengingat lokasi ini menjadi sumber klenik yang kadang-kadang tak mendidik. “Memang Bro, tapi ada aja yang terjadi di sini. Saya sendiri pernah melihat sosok orang tinggi besar seperti orang Belanda,” jelas Slamet. “Kalau saya lain mas, saya tertidur di dalam, tikar saya ditarik-tarik orang,” kata seorang pekerja perbaikan di sana. Ia ikut nimbrung saat kami  bicara topik itu.

     Sebelumnya kami pernah memasuki wilayah ini di siang hari. Saat malam menjelang, suasana memang agak lain. Kaca patri besar dan megah terbiaskan cahaya dari arah belakang dan sangat memesona. Paduan cahaya, relief dan ukurannya yang besar mau tak mau memancarkan aroma mistis tersendiri.

     Slamet mengajak berhenti sejenak untuk menikmati balkon dan pemandangan kota Semarang saat itu. Begitu berbeda…, suasana di luaran yang modern dan ramai dan disekitar balok yang hening dan kental nuansa masa lalu. Ia mengajak kami melihat  profil tembok yang terkelupas di sekitar balok itu,”Tak seperti tembok jaman sekarang ya, lihat, setiap batanya lebih besar dan keras.”  Keterangannya membuat kami kagum, betapa orang jaman dulu serius membuat bangunan untuk bisa bertahan ratusan tahun.

     Langkah kaki lantas menuju ruang khusus yang sepertinya istimewa. Rupanya itulah ruangan direktur   dari bangunan yang dulunya bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, kantor maskapai kereta api. Konon, ruangan inilah yang teristimewa karena sangat terlindung dan berlokasi sangat strategis di bagian atas.

     Oh ya di sini kami berdialog tentang awal pembangunan gedung megah ini. Tahun 1903 duet artsitek  Prof. Jacob K. Klinkhamer dan B.J. Oudang merancang bangunan bersayap dengan teknik artsitektur dan estetika yang dahyat. Mereka ditugasi pemerintah Belanda saat itu untuk menyelesaikan kantor yang dibuka pada 27 Agustus 1913.  Rancangan bangunan utama dan pendamping dengan perspektif yang sangat apik membuat.  Makin afdal, mereka menambahkan duo menara bergaya gothicnya, yang seakan angkuh  mengawasi kota semarang dari ketinggian.

     BIKERS tak melewatkan kesempatan memasuki bagian dalam dari salah satu menara ini.”Di atasnya dipasang torn dan pelat  baja untuk menampung air kebutuhan seluruh gedung,” jelas Slamet.

 

Saat pertama dibuka tahun 1907, suasana zona ini membang membangkitan rasa iri. Secara berkala, trem alias kereta api dalam kota setia melintas di jam yang disepakati. Sebuah mass tranportation yang tertata secara profesional. Itulah Semarang jaman kolonial, noni-noni Belanda datang dan pergi mengurusi sebuah keperluan. Ah, itu hanya satu sisi keindahan yang terjadi, dalam sisinya yang lain, nasib pribumi terjajah, menjadi kisah tragis tersendiri, disiksa dan diperas sampai mati.

Di Era Jepang kondisinya semakin ekstrem. Waktu kami diajak ke lantai 3 oleh guide Lawang Sewu, rasa agak tak nyaman dan sumpek terasa. Aneh, padahal ini aula yang luar dengan ventilasi baik. Ini bukan perasaan bernuansa mistik namun aura jelek yang berpendar sampai jaman ini. Kebetulan sang guide merasakan ‘ketidaknyamanan’ ini dan bercerita. Di jaman Jepang, disinilah tempat penyiksaaan kaum pribumi. Orang-orang digantung-siksa  sampai tewas.  Entahlah apakah ada benarnya, konon pula, mereka ditusuk sampai ususnya terburai. Di sudut aula ada  dua kamar durjana pemuas nafsu birahi bala tentara jepang terhadap wanita-wanita pribumi. Ia lantas menunjukkan tempat itu dan tentu saja tak hanya membangkitkan rasa ngeri tapi juga marah dan sedih bercampur baur. Bagaimana saat itu bangsa kita dihinakan begitu rupa!

Di era itulah, pertempuran Lima Hari yang fenomenal terjadi di Semarang yang merengut nyawa para bunga bangsa. Beberapa yang gugur dikuburkan di areal ini hingga tahun 70-an, jasad mulia inipun dipindahkan ke makam pahlawan.

 Memasuki bagian perbagian di Lawang Sewu mengundang banyak kesan. Ruang bawah tanahnya adalah konsep arsitektur yang tertata. Belanda memperuntukkan ruangan ini sebagai ventilasi udara sekaligus pendingin ruangan di atasnya. Mirip sistem air conditioning era sekarang. DI Jaman Jepang, ruangan ini menjadi penjara bawah tanah yang mengerikan. Ada satu ruang tempat pemenggalan kepala pesakitan. Guide pun tak lupa menjelaskan ikhwal penjara jongkok dan berdiri di ruangan ini. Desain mirip bak mandi diisi kira-kira 8 pesakitan berjongkok di bak dan diisi air sebatas leher. Mereka ditutup sampai waktu yang tak terhingga, kematian menjemput suatu waktu. Sama dengan penjara berdiri. Mereka  ditumpuk 8 orang di ruang sempit hingga tak mampu jongkok, sungguh siksaan yang membuat miris, betapa humanisme dipendam sampai dasar terdalam lubuk hati manusia. Jika ada yang masih ingatrealty show Dunia Lain  Trans TV soal penampakaan kuntilanak di Lawang Sewu, disitulah lokasi persisnya.

     Keluar dari ruang bawah tanah, kita seakan terselamatkan dari dunia bawah tanah yang suram. Lawang Sewu sedikit benderang. Apalagi PT Kereta Api Indonesia mulai  ‘memanjakannya’ dengan renovasi di sana-sini. Perlahan namun pasti, ia berseka dan menjadikan daerah ini sebagai daerah tujuan wisata primadona Semarang. Proteksi ditambah lagi dengan dinobatkannya Lawang Sewu sebagai  salah satu dari 120 bangunan  lama yang wajib dilestarikan.

Saat meninggalkan gedung ini, pedagang keliling dan peganan ala kadarnya mulai menjajikan dagangannya. Lwang Sewu menjadi bangunan yang punya nilai ekonomi dan edukasi. Moga kota-kota lainnyapun memperlakukan gedung tua mereka sepertihalnya Semarang. Mereka sadar bahwa sejarah adalah pelajaran berharga bagi kemajuan intelek muupun material bangsa ini.

Selamat tinggal Lawang Sewu, jika kami berkunjung padamu lagi, kamui yakin kamu akan lebih berseri. Amin!

“Kita sekolah itu cuma nyatet… kongkritnya nyatet… nyatet… dan nyatet… nah film ini yang akan menjadi catatan akhir kita di Sekolah” Arian.
 

Masa sekolah merupakan sebuah tema yang kaya akan cerita apalagi jika diangkat menjadi sebuah film. Tidak hanya film, semua jenis karya entah itu sinema hingga sastra tema ini akan selalu menarik untuk diangkat. Apa alasannya? Tentu saja kerena sebagian besar penonton baik itu Indonesia maupun dunia merasakan senang susah kehidupan disekolah, kesamaan pengalaman inilah yang banyak menarik minat penonton terhadap cerita berlatar sekolah sehingga penonton seolah-olah tidak akan pernah bosan dan pencipta karya pun tak akan pernah habis ide cerita dengan berlatar sekolah. Tema ini lah yang menjadi awal mula naiknya nama sutradara kondang bernama Hanung Bramantyo. Hanung sebenarnya bisa membuat film yang berkualitas, tapi kebiasaannya mengundang sensasi terutama kecanduannya mengangkat tema yang cukup sakral (mengenai agama) membuat saya kurang suka dengan poinnya yang satu ini. Akan tetapi film remaja berjudul Catatan Akhir Sekolah ini bisa dikatakan salah satu master piece Hanung yang bisa kita akui kejeniusannya.

Catatan Akhir Sekolah atau biasa disingkat CAS adalah sebuah film yang disutradari Hanung Bramantyo dan diproduseri Erwin Arnada yang kemudia diproduksi Roxinema. Film ini berkisah tentang tiga anak SMA bernama Agni (Ramon Y Tungka), Arian (Vino G Bastian), dan Alde (Marcel Chandrawinata) yang ingin membuat film documenter sebagai bentuk pembuktian eksistensi mereka disekolah.
Film ini dibuka dengan pertunjukan keahlian sang cameramen merekam segala aktivitas sekolah selama 8 menit tanpa ­cut. Para kru sukses menunjukan kemampuannya, khususnya dalam perancangan tracking camera dimana selama 8 menit itu mereka berhasil merangkum aktivitas anak-anak SMA dimulai dari pertengkaran remaja lelaki gara-gara masalah sepele, percintaan, bullying, keaktifan siswa di organisasi maupun eskul seni, teguran guru terhadap siswa, perbincangan guru, kejar-kejaran, anak cewe ngerumpi, dan masih banyak lagi yang menggambarkan kehidupan sekolah SMA selama 8 menit tanpa henti. Masih mengenai kekaguman terhadap pertunjukan 8 menit tersebut, durasi itu juga sekaligus memberikan gambaran mengenai siapakah ketiga tokoh utama itu, yakni Agni dan Arian, dua sosok yang sangat mendambakan eksistensi di organisasinya masing-masing akan tetapi terlalu bermulut besar tanpa adanya pembuktian, dan juga Alde, anak orang kaya yang digilai banyak wanita tapi malu-malu terhadap cintanya selain itu Alde juga berfungsi sebagai penetralisir ketika Arian dan Agni adu idealisme.
Eksistensi, sesuatu yang didamba-dambakan oleh orang banyak khususnya para remaja yang memiliki semangat berpi-api tak terkecuali trio A, Agni, Arian, dan Alde.  Agni, pendiri eskul film yang tidak diakui oleh para anggota eskul tersebut karena filmnya sulit dimengerti merupakan sosok yang keras kepala. Arian, pengurus mading yang lebih pantas disebut kuncen mading merupakan sosok suka seenaknya sendiri, keras kepala, dan selalu menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan dirinya (setipe dengan Agni). Alde, mengikuti eskul band akan tetapi selalu dikritik oleh teman bandnya karena selalu bergaul dengan Agni dan Arian sehingga lupa waktu. Ketiga orang tersebut selalu disepelekan oleh orang lain bahkan seluruh sekolah menjulukinya trio Cupu.
Bermula dari perbincangan mereka ketika sedang nongkrong di mall, mereka mulai menyadari sesuatu bahwa sebentar lagi mereka akan lulus. Menyadari hal itu, mereka bertiga mulai membicarakan kehidupan yang telah mereka alami disekolah mulai dari aib mereka ketika MOS, kekonyolan-kekonyolan mereka, hingga permasalahan tidak diperhitungkannya mereka oleh teman-teman sekolah yang mendorong mereka untuk berbuat sesuatu di prom night agar nama mereka diingat oleh teman-teman.
Akan tetapi, tidak masuknya nama Agni dan Arian dalam panitia prom night membuat mereka marah karena kembali disepelekan, bahkan mereka berdua punya niatan untuk membuat onar ketika prom nightberlangsung. Tapi Alde yang menyadari bakat teman-temannya (sutradara dan penulis) membuat Agni merencanakan sesuatu, yakni membuat film documenter sekolah yang tidak biasa dimana dalam film itu tidak hanya menampilkan hal yang bersifat senang-senang, tapi seluruh kegiatan sekolah dimulai dari yang senang, susah, konyol, busuk, dan banyak lainnya. Mereka berencana memutarkan filmnya pada saat PENSI (Pentas Seni) dimana acara tersebut diselenggarakan oleh anak-anak kelas 2 dan dilangsungkan sebelum acara prom night. Jika sukses maka kejadian itu akan menaikan nama mereka ketika di prom night nanti.
Seperti yang kita duga, dalam proses pembuatan film ini mulai muncul konflik yang berlapis-lapis seperti konsep yang tak kunjung jadi, CLBK yang dialami Agni, pertengkaran Agni dan Arian yang membuat proses pembuat film sempat terhenti, hingga gangguan dari kepala sekolah yang serba mengukur segala sesuatunya dengan duit. Akan tetapi konflik-konflik tadi memberikan pelajaran tersendiri bagi mereka bahwa segala sesuatu yang mereka koar-koarkan hanyalah bualan, mereka selalu menyalahkan orang lain atas ketidak mampuan mereka sendiri.
Akhir dari cerita ini sungguh fantastis, film yang telah mereka buat akhirnya diputar. Hasilnya tidak hanya memukau penonton dalam film, akan tetapi menghibur penonton yang menikmati film ini pula. Film documenter itu rasanya sukses membuat seluruh anak-anak SMA di seluruh Indonesia senyum-senyum sendiri karena akan terasa seperti melihat tingkah kita sendiri. Di dalam film documenter tersebut, trio A sukses membuat konsep yang bagus dan “menangkap” kejadian-kejadian disekolah seperti mencontek, bolos, merokok dibelakang sekolah, melihat gambar porno, ngoclok, kisah cinta malu-malu kucing, cinta suka sama suka, cinta sebelah tangan, keaktifan siswa dalam organisasi dan juga olahraga, siswa yang aktif di mushola, nasehat agar tidak mencontek, kekejaman satpam dalam menghukum, hingga suatu fakta mengejutkan mengenai rekaman suap jual beli nilai antara kepala sekolah dengan salah satu orang tua murid. Berbagai kejutan terjadi diakhir film.
Film ini sangat sukses menyentuh penonton karena tema ini begitu membumi dan memotret realitas yang ada. Realitas dan tidak terlalu didramatisisr, itu lah yang patut dipuji. Seperti yang disebutkan sebelumnya, film ini berhasil membuat kita seperti melihat tingkah kita dalam masa-masa indah SMA. Film ini juga berhasil melihat sisi kreatif remaja SMA dimana dalam film ini digambarkan organisasi sekolah begitu aktif melakukan kegiatan. Film ini memang mengekor kesuksesan AADC? Yang rilis 3 tahun sebelum CAS, akan tetapi hasil yang didapat mampu melampaui keasikan menonton AADC?. Jika AADC mampu membuat puisi menjadi trend, CAS mampu menjadikan trend membuat film documenter sekolah menyebar ke berbagai sekolah menjelang kelulusan.
Catatan Akhir Sekolah rasanya pantas dilabeli sebagai film remaja terbaik diman didalam film ini tidak hanya menonjolkan kekonyolan masa sekolah tapi juga ada nilai-nilai lain yang bisa kita ambil dari film ini.
Rating : 9
NAMA KELOMPOK :
1. RIZKY ADITYA A 16110160
2. MUHAMAD HASBI ASH SHIDIQI 14110129
3. M. FAZLUR RAHMAN 14110164